Antisipasi Pengembangan Kelapa Sawit

Oleh Anton Sutrisno

Pengembangan kelapa sawit yang ektensif dan konversi lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit dicoba untuk dibahas dengan keterkaitan dengan sustainable resources dan kerentanan ekonomi dan sosial.

DiversifikasiSumberdaya Alam

Perubahanhutan menjadi areal perkebunan telah menghilangkan keanekaragamansumberdaya alam hayati dari berbagai jenis flora dan juga fauna.Ekosistem hutan mengalami perubahan yang cukup besar menjadi tanamanmonokultur perkebunan sawit. Perubahan dalam sekala besar memberikanpengaruh yang cukup besar juga bagi keseimbangan alam. Seperti siklushidrologi dengan perubahan tersebut mengurangi daya dukung tanahdalam penyerapan air hujan ke dalam tanah. Kemudian diketahui bersamabahwa tanaman sawit merupakan tanaman yang butuh air besar, akibatnyaakan terjadi kekeringan di sekitar areal tersebut. Sebagai contohlahan gabut di Desa Urai saat ini yang telah kering total,sumur-sumur di daerah yang banyak tanaman sawitnya seperti GiriMulya, Ketahun dan Napal Putih tidak lagi jernih.

Keberlanjutanteknis.

Tanamansawit, memiliki akar serabut yang menyebar. Tanah menjadi keras, jikadiperhatikan jarang tumbuhan yang ada di bawah batang sawit.Persoalan secara teknis usahatani adalah pasca sawit tidakberproduksi lagi. Rerata diatas umur 20 tahun produksi sudah tidakekonomis, tandan yang semakin kecil dan biaya panen yang semakinbesar. Peremajaan kelapa sawit menjadi keharusan, atau dikonversi ketanaman lain. Akan tetapi kendala yang dihadapi adalah tanah bekastanaman sawit tidak mudah ditumbuhi tanaman lain. Oleh karena itudiperlukan perlakuan tertentu untuk peremajaan tanaman sawit. Padatahun ini Departemen Pertanian telah memulai uji coba peremajaansawit. Di Kecamatan Giri Mulya ada 1 kelompok yang akan melakukankegiatan tersebut. Anggarannya lebih besar dibandingkan dengan tanamawal. Perlakuan yang diberkan adalah dengan memberihan herbisidansistemik melalui infuse. Jika mulai mati maka disela tanaman sawittersebut ditanaman sawit yang baru. Antisipasi lainya adalah padasaat menanaman sawit dapat ditumpangsari dengan tanaman kayu, sepertisengon merah. Dalam 1 hektar tanaman sawit dapat ditanam 30 batangkayu sengon. Kayu sengon merah sudah dapat dipanen pada usia 7 tahun.Sehingga ketika sawit tidak produktif dan harus diremajakan ada biayaperemajaan dari kayu. Disamping itu daun kayu sengon memberikansuplai pupuk hijau dari daunnya.

Kerentanaanekonomi dan sosial

Pada tanaman monokultur, petani memiliki kelemahan terhadap perubahanharga. Akan berbeda dengan petani yang melakukan diversifikasi usahatani. Sehingga ada beberapa petani yang sudah mempertimbangkan ini,dia tidak bergantung dengan tanaman sawit akan tetapi juga menanamkaret. Sehingga ketika terjadi harga jatuh masih ada produk lain yangmenjadi alternatif penunjang ekonomi.

Kerentananyang lain pada hasil sawit adalah, bahwa sawit dapat diproduksi atauditerima dengan kondisi baik oleh pabrik apabila kurang dari 8 jamsetelah panen. Apabila lebih dari itu, maka penyusutan terlalu tinggidan nilai ALB (Asam Lemak Bebas) terlalu tinggi yang menjadikan mutuminyak sawit (CPO) menjadi rendah.

Berdasarkanpengamatan kerentanan ekonomi dan sosial yang lain adalah terjadinyaperubahan konsumsi yang mengarah kepada persaingan yang tidak sehat.Tidak ada lagi simbul kesederhadaan bagi orang desa, hal ini terlihatpada kendaraan, meskipun kredit. Petani sawit lebih mudah mendapatkankredit konsumtif dibanding petani karet, karena harapan penghasilanlebih tetap. Budaya menabung mulai ditinggalkan, harga tenaga kerjamenjadi mahal, gotong royong mulai menurun, tetapi jika dimintaswadaya iuran mudah. Asal melalui dipotong saat menimbang.

Kerentanansosial yang lain adalah ketahanan pangan di wilayah tersebut.Hilangnya lahan pertanian menjadi perkebunan memberikan pengaruhkepada ketergantungan penyediaan pangan dari daerah lain. Apabilaterjadi lonjakan atau kelangkaan bahan pangan maka masalah sosialakan terjadi, uang ada, akan tetapi bahan untuk dimakan tidak ada.Akan sangat berbeda dengan daerah yang memiliki lahan pertanian untukpenyedia pangan seperti padi, jagun, ubi jalar dan lain sebagainyadapat menjadi pangan alternatif atau selingan.

 

EKSISTENSI SUBAK PADA DAERAH EKS TRANSMIGRASI DI KABUPATEN BENGKULU UTARA

Oleh Anton Sutrisno, SP.

Pendahuluan
Ketika mendengar kata Subak, banyangan yang terlintas pada benak kita adalah Pulau Dewata Bali. Sistem pengaturan air secara tradisional yang sudah berabad-abad lamanya, akan tetapi masih langgeng sampai dengan sekarang. Diterapkan dalam pengaturan air untuk kegiatan pertanian di Pulau Bali. Subak ini berkaitan erat dengan kegiatan keagamaan hindu dan aktivitas pengelolaan air. Sehingga akan melekat erat dalam pengelolaan air dimana ada orang yang beragama hindu bali melakukan kegiatan yang memanfaatkan pertanian.
Membahas subak akan menjadi menarik untuk diamati jika ternyata dapat tetap tumbuh di daerah yang jauh dari tempat asalnya. Di Kabupaten Bengkulu Utara terdapat daerah transmigrasi yang berasal dari Bali pada tahun 70 an. Desa Rama Agung mayoritas penduduknya berasal dari Bali yang beragama Hindu. Desa Sumber Agung hanya sebagian penduduk dari Bali, ada juga dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Keduanya berada di Kecamatan Arga Makmur, yaitu di Ibu Kota Kabupaten Bengkulu Utara. Desa Rama Agung berada pada pusat Kota Arga Makmur, sebagian perkantoran dan Rumah Dinas Pejabat Kabupaten ada di sana. Sedangkan Desa Suber Agung masih berada di pinggiran kecamatan berjarak sekitar 15 km dari pusat kota.
Saat ini di Desa Rama Agung telah bercampur berbagai etnis dan agama. Masjid, Gereja, Pura dan Vihara ada di sana dengan jarak yang berdekatan. Selain suku Bali, juga terdapat jawa, batak dan juga masyarakat yang berasal dari sekitar Arga Makmur. Letak rumah juga sudah berbaur, mudah untuk menandai masyarakat Bali yaitu dengan adanya tempat sesaji yang dibangun di depan rumah. Sementara untuk agama lain selain umat Hindu tidak ada bangunan ini.
Read the rest of this entry »

 

DPRD Bengkulu Temukan Alihfungsi Lahan Sawah Jadi Sawit

Senin,  8 Maret 2010 04:42 WIB

Bengkulu (ANTARA News) – Anggota Komisi II DPRD Provinsi Bengkulu Siswadi mengakui, pihaknya menemukan lahan sawah yang cukup luas dialihfungsikan menjadi kebun kelapa sawit, sehingga membuat jaringan irigasi teknis menjadi mubazir.

“Kami menemukan itu saat kunjungan kerja di Kabupaten Seluma belum lama ini, seperti di Desa Rimbo Kedui. Masyarakat setempat sudah mengeluh dengan kondisi ini, bahkan tanaman padi mereka terancam tidak berproduksi maksimal,” katanya di Bengkulu, Minggu.

Read the rest of this entry »

 

Kabupaten Mukomuko Kekurangan Pabrik CPO

Sabtu, 27 Pebruari 2010 06:42 WIB

Kabupaten Mukomuko Kekurangan Pabrik CPO

(FotoANTARA)

Bengkulu (ANTARA News) – Kabupaten Mukomuko kekurangan pabrik pengolahan buah kelapa sawit (CPO), padahal produksi kebun petani setempat sedang meningkat, demikian Kabag Humas Pemerintah Kabupaten Mukomuko Yanzuri Nawawi di Bengkulu, Sabtu.

Pabrik yang ada di daerah itu sekarang baru delapan unit, termasuk milik perusahaan perkebunan besar, sedangkan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang masuk setiap hari cukup banyak, kata Mukomuko.

Akibatnya, TBS kelapa sawit milik petani dikhawatirkan membusuk karena tidak tertampung.

Sekarang sekitar 80 persen penduduk Kabupaten Mukomuko memiliki kebun kelapa sawit, dan mereka kini tengah panen serentak dan produksinya melebihi kapasitas pabrik yang ada.

Bupati Ichwan Yunus telah mengundang investor sektor unsaha pengolahan buah kelapa sawit, namun tetap memenuhi syarat perizinan yang ada.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu Risman Sipayung menyatakan pihaknya akan menerima investor pabrik pengolahan kelapa sawit yang mau menanamkan modalnya di Bengkulu.

Read the rest of this entry »

 

Usul Kompos Gratis bagi Petani

Sumber Dana Bisa Menggunakan Hibah

Rabu, 10 Februari 2010 | 11:48 WIB

BANTUL, KOMPAS – Untuk mendorong petani membiasakan menggunakan pupuk nonkimia, Bupati Bantul Idham Samawi mengusulkan agar pupuk kompos dibagikan gratis. Stimulus itu diharapkan memutus secara perlahan ketergantungan petani terhadap pupuk kimia pabrik dan beralih ke pupuk organik.

“Petani harus dipancing dengan memberi pupuk kompos gratis. Kompos bisa diperoleh dari produksi pengolahan sampah yang ada di pasar- pasar tradisional,” kata Idham di sela-sela pertemuan kelompok tani se-Bantul di Balai Desa Sumberagung, Jetis, Selasa (9/2).

Read the rest of this entry »

 

Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Untuk Kelompok Tani

PPNSI Bengkulu Utara ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan pelatihan pembuatan pupuk organik yang dilaksanakan di Provinsi Bengkulu. Pelatihan diikuti oleh kelompok tani se Provinsi Bengkulu sebanyak lebih dari 50 kelompok. Dilaksanakan di rumah dinas Wakil Gubernur Bengkulu, HM Syamlanm, Lc. pada tanggal 6 Februari 2010 lalu. Sealanjutnya bagi peserta yang memiliki komitmen terhadap pengembangan  pertanian organik akan diberikan sarana bantuan mesin pembuatan pupuk organik.

Read the rest of this entry »

 

Subak Tirta Gangga

Subak Tirta Gangga berdiri tahun 1996 disyahkan oleh Bupati dan didaftarkan di Pengadilan Negeri Arga Makmur tahun 2001 sebagai KP2A Subak Tirta Gangga. Kegiatan utama subak ini adalah berkaitan dengan upacara keagamaan seperti mapag air, dan kariye. Keanggotaan Subak sebanyak 20 orang sementara itu pemanfaatan dari terdiri beberapa kelompok tani yang ada diwilayah Desa Rama Agung Kecamatan Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara. Subak di sini tidak seperti aslinya di Bali. Keanggotaan Subak tidak semua orang yang berasal dari Bali atau yang beragama Hindu.
Read the rest of this entry »

 

Pondok Pesantren Salafiyah Darul Ulum

Pondok Pesantren Salafiyah Darul Ulum berdiri pada tahun 1996 engan no akte C-26.HT.03.01 Tahun 1996. Beralamatkan di Jl. Ahmad Yani Desa Sido Mukti RT 01 RW 02 Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu.

Read the rest of this entry »

 

Pondok Pesantren Darun Naja

Pesantren ini didirikan pada tangal 17 April 1999 di Dusun Pemandi Desa Uray Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara. Tipe ponpes kombinasi antara salaf dan modern dengan induk organisasi keagamaan Nahdatul Ulama (NU). Pendirinya adalah KM Luqman Khusnan dan KM Sholeh.

Tujuan pendirian ponpes ini adalah untuk mencetak ulama-ulama yang berkualitas, seiring dengan kebutuhan masyarakat dengan kebutuhan masyarakat terhadap pemahaman keagamaan yang holistik. Sehingga pengkajian yang mula-mula ditekankan pada kitab klasik (kitab kuning) dengan sistim tradisional, dalam perkembangannya memadukan antara sistim modern dan salafiah.

Read the rest of this entry »